Umat Kristen mempersembahkan hari yang sulung untuk Tuhan. Ya, Hari Minggu adalah hari kebangkitan Tuhan Yesus dan juga hari pertama dalam satu minggu adalah hari ibadah bersama umat Kristen. Tentu bukan hanya satu kali seminggu orang Kristen berbakti, karena ibadah yang sejati adalah persembahan diri (Rm 12:1), dan seharusnyalah kita persembahkan segenap keberadaan kita kepada Tuhan setiap hari.

Ibadah yang sejati adalah bakti masing-masing pribadi. Tepat setelah pendeta mengutus jemaat dalam doa berkatnya selesai ibadah, saat itulah kita keluar dan membagikan kasih Kristus bagi dunia (ekklesia). Penyembahan pribadi kita dengan Tuhan kita nyatakan melalui doa antara “Saya dengan Tuhan.” Ingat-ingatan akan firman Tuhan pun adalah tentang “Tuhan dan saya.” Demikian pula kidung pujian yang adalah tentang “Tuhan kepada saya,” dan “Saya kepada Tuhan.” Namun ketika hari ibadah bersama umat percaya yang lain, bukankah “Saya” seharusnya menjadi “Kami”?

“Persekutuan seorang dengan yang lain”

"Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa."
1 Yohanes 1:7

Dosa membuat kehidupan dengan Tuhan mati. Namun syukur kepada Allah atas kasih dan karunia-Nya yang besar sehingga Anak-Nya yang tunggal diutusnya menjadi jalan keselamatan bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Darah Tuhan Yesus memberikan kita hidup yang baru dalam persekutuan dengan Bapa, dan dengan mereka yang juga menerima kasih dan pengorbanan Kristus di kayu salib. Artinya, kita tidak pernah sendiri dalam persekutuan kudus ini.

Jika ibadah kita setiap hari adalah persembahan pribadi kita akan kasih dan keselamatan yang Tuhan telah karuniakan, maka ibadah minggu kita adalah sebuah persembahan bersama dari mereka yang telah mempersembahkan dirinya pada Tuhan setiap hari. Mereka yang datang sebagai individu yang menyembah Tuhan, namun yang kini menyembah Dia dalam satu kesatuan; bukan lagi “Saya menyembah,” namun “Kami menyembah.” Jika sebelum pergi beribadah menaikkan “Saya berdoa,” kini menjadi “Kami berdoa.”

Kami Berbakti

Matius menuliskan doa yang diajarkan Tuhan Yesus pada para pengikutnya dengan alamat doa, “Bapa kami.” Bukankah ini juga pengajaran bahwa kita terpanggil untuk bersekutu dan berdoa bersama? Para rasul Tuhan pun dalam surat-surat mereka menuliskan pada jemaat untuk berdoa, mengasihi, mempraktikkan firman Tuhan “Seorang akan yang lain.”

Orang yang percaya pada Yesus tidak dipanggil untuk hidup sendirian. Yakobus menuliskan jemaat untuk saling mengampuni dan mendoakan (Yak 5:16), Petrus menekankan untuk jemaat melayani seorang akan yang lain (1Pet 4:10), dan Yohanes pun menulis suratnya yang pertama dengan ajakan kepada jemaat untuk saling mengasihi (1Yoh 4:11). Saat ibadah kita setiap hari adalah antara kita dengan Tuhan, maka Ibadah Minggu adalah ruang untuk kita “Saling” melakukan apa yang tertulis dalam firman Tuhan, dan bukan hanya sebagai “Syarat” orang ber-KTP Kristen.

Paulus menuliskan kepada jemaat di Roma untuk satu hati dan satu suara memuliakan Tuhan (Rm 15:6), namun dimanakah kita mendengar banyak nyanyian pujian dengan kata “Kami”? Ada, namun tidak banyak. Bahkan terkadang kita lupa jika Ibadah Minggu kita adalah ibadah bersama dan terlalu menikmati “Waktu sendiri dengan Tuhan.” Tidak salah, namun sebaiknya kita tidak menyia-nyiakan waktu persekutuan seorang dengan yang lain ini untuk hidup dalam jemaat Kristus yang bersama-sama mempersembahkan persembahan sulungnya kepada Tuhan.

Leave a comment